Wan-nāzi‘āti garqā(n).
Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras, (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 1)
Wan-nāsyiṭāti nasyṭā(n).
demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang mukmin) dengan lemah lembut, (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 2)
Was-sābiḥāti sabḥā(n).
demi (malaikat) yang cepat (menunaikan tugasnya) dengan mudah, (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 3)
Fas-sābiqāti sabqā(n).
(malaikat) yang bergegas (melaksanakan perintah Allah) dengan cepat, (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 4)
Fal-mudabbirāti amrā(n).
dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia), (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 5)
Yauma tarjufur-rājifah(tu).
(kamu benar-benar akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama mengguncang (alam semesta). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 6)
Tatba‘uhar-rādifah(tu).
(Tiupan pertama) itu diiringi oleh tiupan kedua. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 7)
Qulūbuy yauma'iżiw wājifah(tun).
Hati manusia pada hari itu merasa sangat takut; (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 8)
Abṣāruhā khāsyi‘ah(tun).
pandangannya tertunduk. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 9)
Yaqūlūna a'innā lamardūdūna fil-ḥāfirah(ti).
Mereka (di dunia) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan pada kehidupan yang semula? (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 10)
A'iżā kunnā ‘iẓāman nakhirah(tan).
Apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur, apakah kita (akan dibangkitkan juga)?” (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 11)
Qālū tilka iżan karratun khāsirah(tun).
Mereka berkata, “Kalau demikian, itu suatu pengembalian yang merugikan.” (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 12)
Fa innamā hiya zajratuw wāḥidah(tun).
(Jangan dianggap sulit,) pengembalian itu (dilakukan) hanyalah dengan sekali tiupan. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 13)
Fa iżā hum bis-sāhirah(ti).
Seketika itu, mereka hidup kembali di bumi (yang baru). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 14)
Hal atāka ḥadīṡu mūsā.
Sudah sampaikah kepadamu (Nabi Muhammad) kisah Musa? (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 15)
Iż nādāhu rabbuhū bil-wādil-muqaddasi ṭuwā(n).
(Ingatlah) ketika Tuhannya menyeru dia (Musa) di lembah suci, yaitu Lembah Tuwa, (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 16)
Iżhab ilā fir‘auna innahū ṭagā.
“Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 17)
Fa qul hal laka ilā an tazakkā.
Lalu, katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk menyucikan diri (dari kesesatan) (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 18)
Wa ahdiyaka ilā rabbika fa takhsyā.
dan aku akan menunjukimu ke (jalan) Tuhanmu agar engkau takut (kepada-Nya)?’” (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 19)
Fa arāhul-āyatal-kubrā.
Lalu, dia (Musa) memperlihatkan mukjizat yang besar kepadanya. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 20)
Fa każżaba wa ‘aṣā.
Akan tetapi, dia (Fir‘aun) mendustakan (kerasulan) dan mendurhakai (Allah). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 21)
Ṡumma adbara yas‘ā.
Kemudian, dia berpaling seraya berusaha (menantang Musa). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 22)
Fa ḥasyara fanādā.
Maka, dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 23)
Fa qāla ana rabbukumul-a‘lā.
Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.” (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 24)
Fa akhażahullāhu nakālal-ākhirati wal-ūlā.
Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan (siksaan) di dunia. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 25)
Inna fī żālika la‘ibratal limay yakhsyā.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 26)
A'antum asyaddu khalqan amis-samā'u banāhā.
Apakah penciptaan kamu yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya? (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 27)
Rafa‘a samkahā fa sawwāhā.
Dia telah meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 28)
Wa agṭasya lailahā wa akhraja ḍuḥāhā.
Dia menjadikan malamnya (gelap gulita) dan menjadikan siangnya (terang benderang). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 29)
Wal-arḍa ba‘da żālika daḥāhā.
Setelah itu, bumi Dia hamparkan (untuk dihuni). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 30)
Akhraja minhā mā'ahā wa mar‘āhā.
Darinya (bumi) Dia mengeluarkan air dan (menyediakan) tempat penggembalaan. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 31)
Wal-jibāla arsāhā.
Gunung-gunung Dia pancangkan dengan kukuh. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 32)
Matā‘al lakum wa li'an‘āmikum.
(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan ternakmu. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 33)
Fa iżā jā'atiṭ-ṭāmmatul-kubrā.
Maka, apabila malapetaka terbesar (hari Kiamat) telah datang, (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 34)
Yauma yatażakkarul-insānu mā sa‘ā.
pada hari (itu) manusia teringat apa yang telah dikerjakannya (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 35)
Wa burrizatil-jaḥīmu limay yarā.
dan (neraka) Jahim diperlihatkan dengan jelas kepada orang yang melihat(-nya). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 36)
Fa ammā man ṭagā.
Adapun orang yang melampaui batas (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 37)
Wa āṡaral-ḥayātad-dun-yā.
dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 38)
Fa innal-jaḥīma hiyal-ma'wā.
sesungguhnya (neraka) Jahimlah tempat tinggal(-nya). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 39)
Wa ammā man khāfa maqāma rabbihī wa nahan-nafsa ‘anil-hawā.
Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 40)
Fa innal-jannata hiyal-ma'wā.
sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 41)
Yas'alūnaka ‘anis-sā‘ati ayyāna mursāhā.
Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat, “Kapankah terjadinya?” (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 42)
Fīma anta min żikrāhā.
Untuk apa engkau perlu menyebutkan (waktu)-nya? (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 43)
Ilā rabbika muntahāhā.
Kepada Tuhanmulah (dikembalikan) kesudahan (ketentuan waktu)-nya. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 44)
Innamā anta munżiru may yakhsyāhā.
Engkau (Nabi Muhammad) hanyalah pemberi peringatan kepada siapa yang takut padanya (hari Kiamat). (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 45)
Ka'annahum yauma yaraunahā lam yalbaṡū illā ‘asyiyyatan au ḍuḥāhā.
Pada hari ketika melihatnya (hari Kiamat itu), mereka merasa seakan-akan hanya (sebentar) tinggal (di dunia) pada waktu petang atau pagi. (Lihat Tafsir Surat An-Nazi'at Ayat 46)